PSIKOLOGI REMAJA

Masa remaja menurut Dra. Evita Adnan, Kepala Jurusan Psikologi Pendidikan UNJ memiliki berbagai definisi. Secara sederhana seseorang dianggap remaja dapat dilihat dari usia dan ciri-ciri yang muncul. Usia 10-13 tahun dikatakan sebagai masa praremaja, sedangkan masa puber remaja pada usia 14-18 tahun.

Anak dikatakan memasuki usia remja memiliki ciri-ciri yang sangat spesifik sekali, karena pada saat itu terjadi perubahan yang berarti. Pada awal masa puber, remaja mengalami perubahan fisik yang sangat menonjol. Diantaranya tinggi badan yang luar biasa pesatnya dan pertumbuhan namun tidak diimbangi dengan perkembangan yang bersifat psikis.

Masa remaja sangat rentan dalam beberapa hal. Menurut beliau, emosi remaja sama tingginya dengan anak-anak TK. Namun, remaja sudah lebih mampu menempatkan diri secara proposional. Mereka mengalami keadaan yang menggejolak yang sangat bersemangat dan kritis.

Remaja mengalami perubahan-perubahan yang menyertai pada organ seksual primer dan sekunder. Pada organ seksual primer, perempuan mengalami menstruasi, sedangkan laki-laki mengalami mimpi basah. Hal ini biasanya diikuti dengan perubahan organ seksual sekunder yaitu bagi perempuan memiliki payudara, sedangkan laki-laki tumbuh bulu-bulu dan jakun. Jika ini terjadi berarti masa puber sudah mulai.

Selain itu, masa remaja terjadi perubahan pada minat dan sosial. Saat usia anak-anak menjadi anak rumah, memasuki masa remaja menjadi melihat keluar, meninggalkan nilai-nilai rumah, mencari hal-hal yang lebih menarik buat mereka. Mereka merasa ada orang lain selain orang tuanya yaitu teman-teman. Pada saat ini mereka mulai menjadikan teman sebagai bagian dari hidup. Kalau sebelumnya pada masa puber membutuhkan teman homogen, remaja mulai heteroseksual. Mereka mulai ada ketertarikan pada lawan jenis. Minat untuk lebih memperhatikan diri, keinginan sama seperti yang lain, mengikuti model teman. Nilai-nilai yang menurut orangtuanya bagus, dapat dianggap tidak bagus lagi olehnya.

Masa remaja adalah saat mereka mulai menentang, berpikir idealis. Mereka ingin diakui kelompok. Seperti halnya mode baju dan potong rambut yang dapat membuat gerah orangtua, tetap dilakukannya demi diakui kelompok. Kalau sudah begini, percuma saja bagi orangtua untuk menentang anak. Menurut Bu Evita, remaja baru dapat sadar pada usia di atas 18 tahun, karena mereka akan lebih realistis.

Perubahan fisik yang terjadi pada remaja membuat mereka tidak nyaman, tidak stabil. Hal ini yang harus diperhatikan orang tua. Orangtua cenderung hipertensi berlebihan. Seharusnya mereka lebih memahami anak. Sebenarnya anak remaja mulai memiliki kemampuan bernalar yang baik dan mulai dapat berfungsi seperi orang dewasa. Menurut Dra. Evita usia 11 tahun, anak sudah mulai dapar berfikir seperti orangtua, sayangnya orangtua menganggap anaknya masih kanak-kanak. Hal inilah yang sering membuat terjadinya pertentangan dengan orang tua.

Rangsangan remaja yang tidak tersalurkan akan membentuk aktivitas-aktivitas tertentu, seperti timbulnya jerawat dan keringat berlebih sudah membuatnya tidak nyaman. Jika hal ini ditambah orangtua yang terlalu hipertensi dan tidak mau mengerti, dapat membuat hubungan menjadi tidak baik. Orangtua harus membina dan menghargai remaja. Kalau memang ada hal yang tidak sesuai, lebih baik dibicarakan baik-baik..

Seperti dikatakan sebelumnya oleh Ibu Evita, masa remaja adalah masa yang rentan terhadap bahaya. Orangtua yang terlalu /overprotective/ pada anak, tidak memberikan kesempatan pada anak. maka suatu saat jika anak ini terjun keluar yaitu pada masyarakat banyak, anak menjadi tidak siap dan ini membuatnya mudah menjadi mangsa. Menurutnya anak usia puber sebaiknya mulai dilepaskan. Biasanya remaja akan menempatkan suatu gejala. Seperti halnya anak SD yang tidak ingin ditermani ibunya lagi, tetapi bersama teman-teman. Jika orang tua melihat ini, orang tua harus waspada. Anak sudah menampakkan gejala bahwa ia ingin meminta perhatian orang tua agar lepas sama ibu. Ini suatu tanda dan orangtua harus siap menghadapinya.

Oleh karena itu, Dra. Evita berpesan kepada orang tua untuk lebih memahami remaja. Perubahan yang terjadi dari anka menjadi remaja adalah masa yang membuatnya tidak nyaman. Jadi orang tua sebaiknya lebih menghargai mereka. Perilaku remaja yang tidak sesuai dengan kehendak orang tua sebaiknya dibicarakan dengan baik-caik. Dengan kata lain, orang tua harus komunikatif terhadap mereka.

Tentang 4stoety

Guru Bimbingan Konseling di SMP Negeri 5 Kota Magelang
Pos ini dipublikasikan di Bimbingan, Remaja. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s