Implikasi Pendidikan dalam Pembentukan Konsep Diri

APA yang Anda pikirkan tentang diri Anda? Apakah Anda orang yang selalu optimistis dalam menghadapi berbagai persoalan hidup? Apakah Anda siap menghadapi risiko atas setiap keputusan yang Anda lakukan? Apakah Anda merasa orang-orang yang ada di sekeliling Anda adalah orang-orang yang menyenangkan sehingga Anda merasa nyaman berhubungan dengan mereka? Atau Anda merasakan bahwa setiap orang memusuhi Anda, dan Anda selalu merasa bodoh atas segala tindakan dan keputusan yang Anda ambil, serta Anda merasa bahwa hidup ini begitu tidak menyenangkan karena banyak sekali persoalan yang sulit Anda hadapi? Ataukah Anda selalu berimajinasi bahwa hal-hal buruk akan menimpa Anda sautu saat nanti?

Jika Anda memikirkan apa “yang Anda suka”, hidup Anda akan dipenuhi hal itu. Sebaliknya, jika Anda selalu memikirkan hal-hal “yang tidak Anda suka” maka yang terjadi dalam hidup Anda pun akan mencerminkan itu. Demikian satu pernyataan dari buku Quantum Ikhlas yang mungkin bisa menggugah kesadaran kita untuk mengolah konten pikiran Anda. Artinya betapa dahsyatnya pengaruh pikiran kita dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh pikiran tersebut juga dapat mencerminkan konsep diri seseorang.

Konsep diri adalah keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Ada dua macam konsep diri, yakni konsep diri negatif dan konsep diri positif. Pertanyaan-pertanyaan di atas bisa mendeteksi apakah kita termasuk kelompok orang yang memiliki konsep diri negatif atau positif.

Brooks dan Emmert (dalam Rahmat, 1996) mengungkapkan, terdapat perbedaan karakteristik antara orang yang memiliki konsep diri positif dan seseorang dengan konsep diri negatif. Perbedaan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa indikator. Orang yang memiliki konsep diri positif memiliki keyakinan akan kemampuan dalam mengatasi masalah; merasa setara atau sederajat dengan orang lain; menerima pujian tanpa rasa malu; menyadari bahwa setiap orang memiliki berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya dapat diterima oleh masyarakat; memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri; memiliki kesanggupan dalam mengungkapkan aspek yang tidak disenangi dan berusaha mengubahnya.

Sedangkan konsep diri negatif, antara lain ditunjukkan melalui perilaku peka terhadap kritik, namun dipersespi sebagai upaya orang lain untuk menjatuhkan harga diri; cenderung menghindari dialog terbuka; selalu mempertahankan pendapat dengan berbagai logika yang keliru; sangat respek terhadap berbagai pujian yang ditujukan pada dirinya dan segala atribut atau embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya; memiliki kecenderungan bersikap hiperkritis terhadap orang lain; jarang bahkan tidak pernah mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain; memiliki perasaan mudah marah, cenderung mengeluh dan meremehkan orang lain; merasa tidak disenangi dan tidak diperhatikan orang banyak, karena itulah cenderung bereaksi untuk menciptakan permusuhan; tidak mau menyalahkan diri sendiri namun selalu memandang dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak benar; pesimis terhadap segala yang bersifat kompetitif, enggan bersaing dan berprestasi, serta tidak berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya (http://duniapsikoligi.dagdigdug.com/).

Konsep diri yang dimiliki seseorang bukanlah bersifat genetik atau pembawaan yang diturunkan dari orangtua. Dengan kata lain, konsep diri yang dimiliki seseorang, baik yang negatif ataupun positif bukan bakat atau karakter bawaan. Konsep diri lebih banyak ditentukan oleh fakor lingkungan sekitar, seperti keluarga, pergaulan, dan pendidikan di masa kecil. Harus diingat pula, konsep diri ini tidak bersifat permanen. Bisa saja seseorang mengubah konsep dirinya dari negatif ke positif atau sebaliknya seiring munculnya keadaran baru tentang diri. Yang diharapkan tentu perubahan dari konsep diri negatif ke konsep diri positif dan bukan sebaliknya. Sebab konsep diri negatif dapat merugikan pribadi yang bersangkutan, terutama dalam hubungan dengan proses sosialiasasi maupun dalam karier dan pekerjaan.

Faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan konsep diri adalah, pola asuh orangtua, kegagalan serta depresi. Orangtua tanpa disadari sering mengeluarkan stigma, seperti “Segini aja kamu enggak bisa. Bodoh amat sih kamu?”, “Kamu ini memang pemalas!”, “Kamu memang enggak punya bakat maju!”, dsb. Bila stigma itu sering dikemukakan orangtua, maka dalam waktu lama, terbentuklah dalam diri sang anak konsep diri sebagai orang yang “bodoh”, “malas”, dan “gagal”. Inilah mengapa pentingnya orangtua berhati-hati dalam mengeluarkan penilaian pada anaknya.

Lingkungan keluarga dan lingkungan seseorang sekitarnya di masa kecil memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan konsep diri. Lewat sajaknya yang terkenal, Dorte Law Nolte menggambarkan dengan gamblang, “Jika anak hidup dengan kecaman, ia belajar untuk menyalahkan, Jika anak hidup dengan permusuhan, ia belajar untuk berkelahi, Jika anak hidup dengan ejekan, ia belajar untuk jadi pemalu, Jika anak hidup dengan rasa malu, ia belajar untuk merasa bersalah, Jika anak hidup dengan toleransi, ia belajar untuk menjadi penyabar, Jika anak hidup dengan dorongan, ia belajar untuk percaya diri, Jika anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai, Jika anak hidup dengan kejujuran, ia belajar untuk bersikap adil, Jika anak hidup dengan perlindungan, ia belajar untuk memiliki keadilan, Jika anak hidup dengan restu, ia belajar untuk menyukai diri sendiri, Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta di dunia.”

Konsep diri positif berperan penting dalam mencapai kemajuan bagi seseorang. Hasil penelitian yang dilakukan di Amerika oleh Dr. Eli Ginzberg beserta timnya menemukan satu hasil yang mencengangkan. Penelitian ini melibatkan 342 subjek penelitian yang merupakan lulusan dari berbagai disiplin ilmu. Para subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang berhasil mendapatkan beasiswa dari Colombia University. Dr. Ginzberg dan timnya meneliti seberapa sukses 342 mahasiswa itu dalam hidup mereka, lima belas tahun setelah mereka menyelesaikan studi. Hasil penelitian yang benar-benar mengejutan para peneliti itu, mereka yang lulus dengan mendapat penghargaan (predikat memuaskan, cum laude atau summa cum laude), mereka yang mendapatkan penghargaan atas prestasi akademiknya, mereka yang berhasil masuk dalam Phi Beta Kappa, ternyata cenderung berprestasi biasa-biasa. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan langsung antara keberhasilan akademik dan keberhasilan hidup. Lalu faktor apa yang menjadi kunci keberhasilan hidup manusia? Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positif (adi@adiwgunawan.com).

Kalian tentu pernah mendengar cerita tentang Lady Diana (istri pewaris tahta kerajaan Inggris) yang menderita ‘Bulimia’ (kebiaaan memuntahkan makanan yg dimakansupaya tetap langsing), Kurt Cobain vokalis Nirvana yang bunuh diri, Heath Ledger artis Hollywod yang baru2 ini tewas karena bunuh diri, para supermodel yang menderita ‘Anorexia Nervousa’ (menghindari makanan supaya tetap kurus) dan masih banyak lagi kasus lainnya. Semua ini ada 1 benang merah yang ada kaitannya dengan Konsep Diri

Konsep diri secara umum diartikan sebagai bagaimana keyakinan, pandangan/penilaian/komentar seseorang terhadap dirinya sendiri. Pengetahuan tentang konsep diri ini menurut gw sangatlah penting. Karena, seringkali kesulitan-kesulitan atau masalah-masalah yang kita hadapi dalam hidup ini sumbernya berasal dari diri kita sendiri, dari pikiran kita, dimana kita terus-menerus memberikan suatu penilaian negatif terhadap diri kita sendiri dan akhrinya kita merasa tidak mampu menyelesaikan persoalan yang ada, kemudian kita pun jadi minder, kehilangan kepercayaaan diri dan akhirnya kita merasa diri kita bukanlah apa-apa, tidak berguna, tidak ada potensi, dan akhrinya kita putus asa atau bahkan sampai merasa tidak ada gunanya lagi hidup. Nah lho!

Faktor-faktor yang mempengaruhi

Konsep diri ini bukanlah bawaan lahir, bukanlah sesuatu yang positif atau negatifnya sudah merupakan suratan takdir, konsep diri kita adalah hasil bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan, juga pengalaman, yang sifatnya dinamis (bisa berubah). Jadi, jika anda merasa saat ini konsep diri anda sedang “negatif” karena lingkungan anda yang tidak mendukung, anda masih bisa mengubahnya ke arah yang lebih baik. Tapi sebelum itu mari kita lihat terlebuh dahulu faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi konsep diri seseorang, ini dia:

• Pola asuh orang tua dan lingkungan

seperti Lady Di. Kurt Cobain, dan kasus2 psikologis anak yang hidup tanpa pola asuh keluarga utuh lainnya (seperti anak tanpa asuhan orang tua)… memberikan efek konsep diri yang rendah

• “Kegagalan”Seringkali, kegagalan yang terus menerus dialami seseorang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan negatif kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua penyebabnya terletak pada kelemahan dirinya. Tapi, jika ia mau terus berusaha dan berpikiran positif, mungkin hasilnya akan berbeda. Tidak akan muncul konsep negatif pada dirinya, dan kesuksesanpun bisa diraih.

• Depresi

Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatunya, termasuk menilai diri sendiri. Segala situasi atau stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif.

• Kritik internal

Kita semua mengetahui bahwa kritik (dari diri sendiri maupun orang lain) diperlukan sebagai bahan evaluasi pada kekurangan diri, untuk kemudian diperbaiki. Tapi, jika kritik itu justru ditanggapi sebagai penilaian mutlak yang tidak mungkin dirubah, justru penilaian negatif pada diri sendirilah yang terjadi. Ingatlah bahwa, you are what you think! Drimu adalah sebagaimana yang kau pikirkan! Kritik pada diri sendiri janganlah berubah menjadi penilaian negatif bagi diri sendiri, semuanya bisa dirubah ke arah yang lebih baik, janganlah putus asa!

Ubah konsep diri ke arah posiitif

Ikuti langkah-langkah berikut ini:

• Mulai dengan affirmasi positif

Yap! Mari mulai dengan (baca basmalah), kemudian tanamkanlah kata-kata positif yang dapat memacu semangat dan menjadi motivasi pada diri kita. Seperti “Aku pasti bisa!…, aku pasti berhasil!…, aku akan menguasainya!…,”, dsb. Dengan ini, kita mulai perubahan ini dengan penuh semangat dan keyakinan! Ok!

• Bersikaplah objektif pada diri sendiri…

Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya. just do the best you could in every way….

• Hargai diri sendiri

Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri. Hargailah dan syukurilah apapun diri kita adanya

• Jangan memusuhi diri sendiri dan berpikirlah positif serta rasional

Maksudnya, Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan itu merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan dalam diri kita antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan negatif konsep dirinya. Karenanya, tetaplah berpikiran positif dalam setiap kesempatan, dan tetapkanlah target-target pencapaian hidup yang rasional, sesuai dengan kedaan kita, atau jika mau target besar, lakukan secara bertahap. Agar kita tidak merasa terbebani dan jika belum berhasil di saat yang kita tentukan, kita tidak akan merasa rendah diri, apalagi depresi.

intinya, untuk mencapai kesuksesan diperlukan konsep diri yang positif, artinya pandangan/penilaian positif pada diri sendiri yang akan membuat kita tetap optimis menghadapi semua persoalan dalam hidup ini. Semoga bermanfaat!!!

http://mig33pontianak.forum.st/art-dan-gaya-hidup-f19/konsep-diri-self-conceptual-t189.htm

Tentang 4stoety

Guru Bimbingan Konseling di SMP Negeri 5 Kota Magelang
Pos ini dipublikasikan di Bimbingan Klasikal. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s